Selain di penuhi kalimat2
inspiratif. Cerita2nya sendiri
sangat inspiratif. Dan ini
terinspirasi dari kisah nyata!!
Yg tentuny pernah terjadi.
Terharu dgn cita2 Amak yg
memikirkan nasib umat Islam.
Penasaran ingin berkunjung
ke Danau Maninjau dan
menginjakkan kaki d kota
kelahiran Buya Hamka (Haji
Abdul Malik Karim Amrullah).
Juga ingin nyicip rendang
kapau. :)
Membayangkan kalo saya ikut
dalam perjalanan dari bayur ke
ponorogo maka saya akan
mual. Mabuk darat. Hee
Tujuan pendidikan Pondok
Modern ini menurut saya
sangat mulia. "Menghasilkan
manusia mandiri yg tangguh.
Agar mjd rahmat bagi dunia
dgn bekal ilmu umum dan
ilmu agama"..
Saya ingat sabda Rasulullah
SAW 'sebaik-baik manusia
adalah yg paling byk
memberikan manfaat bagi
manusia lainnya' :).
Sungguh saya sangat terkesan
dgn metode pembelajaran
dsana.. Terutama dalam
penguasaan bahasa asing.
Meneriakkan kosa kata baru,
memahami dan memasukkan
ke kalimat, melihat tulisannya,
kemudian mengikat ilmu baru
ke dalam memory terdalam
dgn menuliskannya.
(Sayidina
Ali pernah bilang, ikatlah ilmu
dgn mencatatnya. Proses
mencatat itulah yg mematri
kosa kata baru di kepala kita.
Hal.265) :)
Untuk kesekiankalinya saya
salut sm Amak yg ingin
berlaku adil, bahkan kpd
anaknya sendiri..
Ada cerita apa di balik ini??
Baca sendiri ya di Bab 'Abu
Nawas dan Amak'. ^^v
Oia, di bab ini bait-bait dari
syair Abu Nawas sukses
netesin cairan hangat di sudut
mata.
Bait2 terakhir :
"kalau Engkau ampuni
itu karena Engkau sajalah yg
bisa mengampuni
Tapi kalau Engkau tolak,
kepada siapa lagi kami mohon
ampun selain kepada Mu?"
Hiks, smoga qta smua
termasuk golongan org2 yg di
ampuni dan di rahmati Allah
SWT. Amin Ya Allah.
Ada juga tips ktika berpidato.
= Pandanglah mata hadirin.
= Atur tekanan dan nada.
Terutama di akhir kalimat.
= Lemparkan pertanyaan
provokatif tapi sederhana.
= Berikan jawaban dgn nada
suara yg semakin meninggi.
= Lanjutkan pidato dgn penuh
semangat.
Sang tokoh utama pun sukses
besar dgn pidatonya.
Kesuksesan tsb tentu saja
penuh perjuangan. Silakan di
bacaa. :)
Ikut2an gugup ktika pencuri
yg menyantroni Pondok mreka
berlari ke arah Alif dan Dul
(Nama tokoh utama dan
temannya dalam novel) yg
sedang jaga di Pos dekat
sungai.
Ini kan kisah nyata, pasti
menegangkan skali waktu itu.
Berhasilkah si Pencuri
tertangkap?
Sekali lagi.. Silakan bacaa... :p
Ikhlas, salah satu kata sakti yg
diajarkan di novel ini.
Salah satunya crita tentang
Ustad Khalid (nama ustad dlm
novel). Beliau tinggal 10 tahun
di Mesir, menamatkan program
doktor di universitas Al Azhar
bidang Tsaqafah Islamiyah,
Peradaban Islam.
Namun beliau memutuskan
untuk kembali dan berwakaf
ke Pondok. Barang yg beliau
wakafkan adalah diri sendiri.
Semua waktu, pikiran dan
tenaga beliau untuk Pondok.
Tidak mengharapkan imbalan
dunia.
Semua ikhlas hanya ibadah
dan pengabdian pada Allah.
Hebatnya beliau tdk merasa
berkorban, malah menurut
beliau Pondok membuka pintu
amat buat beliau.
Subhanallah.
Bisakah qta seperti beliau?
(Selama kalian Ikhlas, maka
selamanya Allah akan menjadi
penolong kita. Innallah Maa'na.
Tuhan bersama kita. Hal.397)
Dengan terus melafalkan
nasihat Kiai Rais (Pemimpin
Pondok) :
"Jangan pernah takut dan
tunduk kepada siapa pun.
Takutlah hanya kepada Allah.
Karena yg membatasi kita atas
dan bawah hanyalah tanah
dan langit."
Alif sukses berpidato dlm
bahasa inggris di depan ribuan
orang.
Termasuk diantaranya hadir
Kiai Rais dan DuBes Inggris.
Kalimat Kiai Rais kepada Alif
ketika saling berjabat tangan
usai khutbah perpisahan
begitu mengena. "Hidup
sekali, hiduplah berarti"..
Suka pertemanan keenam
anggota Sahibul Menara.
Yang saya tulis cuma sebagian,
Masih byk hal2 menarik
lainnya. :)
Mohon maaf jika ada kata2 yg
kurang berkenan. ^^v